Terkadang apa yang kita simpan di memori selama apapun itu akan kembali di detik tak terduga.
Yang aku tau dan aku ingat.
Kamu pernah sebut aku keheningan.
Yang menemanimu menghabiskan malam.
Kamu juga pernah sebut aku Kafein.
Yang selalu menjadi candu ketika kamu ingin.
Eh.
Ingatan juga membuka memori ketika
Kamu menyuruhku menyeduh secangkir pekat pahit tanpa gula.
"Kenapa?", tanyaku.
"Karena manisnya sudah ku sesap di ujung bibirmu", katamu tersenyum.
Kembali kau berkutat dengan uap dan cangkirmu.
Kamu juga pernah bilang aku seperti Nikotin.
Yang selalu mememanimu dalam kesunyian.
Haha..
Sepertinya inspirasimu masih seputar Kafein dan Nikotin...
Akan bertahan sampai berapa lama Inspirasimu itu?
Sampai Kafein hanya tinggal Ampas di dasar cangkirmu kah?
Atau sampai Nikotin di tanganmu hanya tinggal abu ?
Eh. Aku lupa, Kamu bahkan bisa menanam rindu pada tumpukan ampas di dasar cangkirmu yang dalam itukan?
dan kamu juga bisa Mengubur kenangan dari tumpukan abu di asbakmu. :)
Kamu memang serba bisa.
Bahkan, Mungkin tak ada yang menandingimu.
Oke mereka inspirasimu.
Jadi, biarkan kamu jadi Inspirasiku.
Yang saat ini masih dengan angkuhnya memenuhi catatan di Diary kecilku.
Dan mungkin ketika kamu menolak jadi inspirasiku.
Aku bisa menertawakan Onggokkan sampah itu.
Haha...
Benar Bukan?
Hai, Dear Ricochet.
Sang Penguasa yang Adil?
Showing posts with label Secangkir Kopi dan Kamu.. Show all posts
Showing posts with label Secangkir Kopi dan Kamu.. Show all posts
February 21, 2014
Sesulut Pagi bersama Secangkir Kafein
Pagi ini hening, hanya rintik gerimis dan kesibukan embun-embun bening yang memecahnya.
Menikmati pagi bersama udaranya yang bersih, entah negeri Dhaha ini begitu membangkitkan kenangan.
Kali ini tak kunikmati Pagiku yang Damai ini bersama puntung nikotin. Aku hanya ingin damai tanpa polusi.
Oh. Tapi belum lengkap, ada yang kurang.
Uap kefein dari cangkir ayahku yang merayap di bantaran udara ini. sedikit menggangguku.
Dibuatnya aku gelisah. seperti Manusia pecandu yang tak terjamah Morfin 2 minggu. sakau.
Itu yang memaksaku bangkit dari keheningan ini, melangkahkan kaki menyeduh si hitam dengan sedikit kristal putih manis.
Pagiku sempurna.
Aroma ini,
Kamu.
Ada. Lengkap.
Adakah yang lebih membahagiakan dari setiap kepulannya dan setiap teguknya?
Berkali-kali aku mengatakan, Kolaborasi sederhana yang mebahagiakan itu : Kamu dan kopi.
Membuatku menjadi pecandu yang bahagia. Aku tidak butuh rehabilitasi untuk hal ini.
Ini gila, tapi aku bahagia.
Cukup indah meski hanya mengamatimu dari hitam-putih, abu-abu potretmu.
Dengan senyum lebar berpagarmu,
Rambut yang menjadi kebanggaanmu.
Iya itu kamu, Ciri khasmu.
Entah hanya dengan uap Kafein yang menggebu ini aku bisa menginggat kamu.
Tuh kan. Kamu dan Cangkir kecil ini berhubungan.
Tuhan emang Maha Asyik.
Dia menciptakan tanaman Kopi sebagai media penyimpan memori tentang kamu.
Seteguk saja aku bisa mengingat senyummu.
Dua teguk aku bisa merasa rengkuhanmu.
haha..
Aku bukan Phsycopat kok.
Aku hanya melampiaskan kebahagiaanku.
Hidup dengan fantasi-fantasiku.
Iya, ini caraku mengisi kesepian.
Kita dua Makhluk pecandu. yang masih belum disadarkan untuk bersama.
Ya. Melihatmu. dalam diam, Aku lebih bahagia begitu.
Menikmati pagi bersama udaranya yang bersih, entah negeri Dhaha ini begitu membangkitkan kenangan.
Kali ini tak kunikmati Pagiku yang Damai ini bersama puntung nikotin. Aku hanya ingin damai tanpa polusi.
Oh. Tapi belum lengkap, ada yang kurang.
Uap kefein dari cangkir ayahku yang merayap di bantaran udara ini. sedikit menggangguku.
Dibuatnya aku gelisah. seperti Manusia pecandu yang tak terjamah Morfin 2 minggu. sakau.
Itu yang memaksaku bangkit dari keheningan ini, melangkahkan kaki menyeduh si hitam dengan sedikit kristal putih manis.
Pagiku sempurna.
Aroma ini,
Kamu.
Ada. Lengkap.
Adakah yang lebih membahagiakan dari setiap kepulannya dan setiap teguknya?
Berkali-kali aku mengatakan, Kolaborasi sederhana yang mebahagiakan itu : Kamu dan kopi.
Membuatku menjadi pecandu yang bahagia. Aku tidak butuh rehabilitasi untuk hal ini.
Ini gila, tapi aku bahagia.
Cukup indah meski hanya mengamatimu dari hitam-putih, abu-abu potretmu.
Dengan senyum lebar berpagarmu,
Rambut yang menjadi kebanggaanmu.
Iya itu kamu, Ciri khasmu.
Entah hanya dengan uap Kafein yang menggebu ini aku bisa menginggat kamu.
Tuh kan. Kamu dan Cangkir kecil ini berhubungan.
Tuhan emang Maha Asyik.
Dia menciptakan tanaman Kopi sebagai media penyimpan memori tentang kamu.
Seteguk saja aku bisa mengingat senyummu.
Dua teguk aku bisa merasa rengkuhanmu.
haha..
Aku bukan Phsycopat kok.
Aku hanya melampiaskan kebahagiaanku.
Hidup dengan fantasi-fantasiku.
Iya, ini caraku mengisi kesepian.
Kita dua Makhluk pecandu. yang masih belum disadarkan untuk bersama.
Ya. Melihatmu. dalam diam, Aku lebih bahagia begitu.
February 20, 2014
Panggil Aku 'Sang Pecandu' !
Mungkin sebagian manusia, yang dirundung sesaknya dunia.
Pelariannya adalah Heroin, Ganja, Double L, Ekstasi, Jack Daniels, Sherry, Gin, Vodka, atau bahkan Topi Miring.
Atau minimal, lari ke sarang berlampu remang.
Menari dibawah lampu Kunang-kunang dengan music DJ yang memekakkan telinga.
Oh itu .. Lupakan.
Aku.
Sederhana saja, Aku melarikan diriku, pada cairan hitam pekat dengan sedikit gula, juga sebatang kecil Tembakau beraroma mint,
Memenuhi paru-paruku dengan asap manis, kala aku rindu kamu.
Aku yang tak pernah berani mengajakmu berbicara sedikitpun.
Aku yang hanya bisa memandangmu dari kejauhan dalam diam.
Ya aku terlalu pengecut untuk bisa mengajakmu bicara.
Aku bukan seorang bonek yang garang didepanmu.
Oh iya.. aku bisa bicara denganmu. jika ada orang lain yang sedang bersamamu.
Aku hanya bisa meneguk Kafein pekat yang sarat akan pahitnya dunia, tapi kamu membuatnya manis..
Iya, kamulah manis yang penuh kepahitan, dan akulah pahit yang penuh kemanisan.
Aku akui, senyummu saja bisa membuatku lumer. Meleleh kemana-mana.
Eh kamu, Kafein dan nikotinku. yang tak pernah absen di sore dan malam hariku.
Tanpa itu hidupku bukan hidup namanya.
Sebegitunya aku memaknaimu dalam hidupku.
Senyum berbehel itu yang selalu tertinggal di langit-lagit kamarku yang putih.
Pria berponi berubuh ceking dan telah berkepala dua itu yang mengisi euforia hariku, yang membuatku menemukan makna dalam menjalani hari.
Oh, oke sebelum ini aku pernah salah mencinta. Mencinta makhluk berbeda yang tak semanis kamu.
Dia, hanya bisa menghadirkan tangis dalam diamku. sedang kamu tidak.
Kamu memang menghadirkan tangis. tapi berbeda, ia punya rasa, ya, rasa yang hangat.
"Jangan heran, jika aku ada di dalam cangkir kopi yang kau sedu. Sebab Tuhan tahu, dimana tempat rindu layak untuk dijatuhkan." katamu suatu malam, disebuah kafe, di Kota Pahlawan.
Aku tau kamu mengutipnya dari Jejaring burung biru muda.
Aku tau kamu merayuku.
Hahaha, itu manis.
(aku tersenyum selalu ketika mengingatnya.)
Tuhan itu maha Asyik.
Ia mungkin mendaratkan seseorang dihariku, mungkin seseorang yang salah.
Tapi kemudian Ia menyadarkan aku.
Bahwa kamulah Alien yang layak menghuni pulau kecil berkarat yang berkali-kali tenggelam ini.
Sebut aku Sang Pecandu.
Karena aku Sakau jika tak ada senyummu.
Sebut aku Pecandu, yang tak bisa mangkir dari kehebohan sajak tentangmu, dan senyum berpagarmu.
Sebut aku Pecandu
Karena kamulah sebatang Nikotin dan secangkir Kafein ku.
:)
R
Pelariannya adalah Heroin, Ganja, Double L, Ekstasi, Jack Daniels, Sherry, Gin, Vodka, atau bahkan Topi Miring.
Atau minimal, lari ke sarang berlampu remang.
Menari dibawah lampu Kunang-kunang dengan music DJ yang memekakkan telinga.
Oh itu .. Lupakan.
Aku.
Sederhana saja, Aku melarikan diriku, pada cairan hitam pekat dengan sedikit gula, juga sebatang kecil Tembakau beraroma mint,
Memenuhi paru-paruku dengan asap manis, kala aku rindu kamu.
Aku yang tak pernah berani mengajakmu berbicara sedikitpun.
Aku yang hanya bisa memandangmu dari kejauhan dalam diam.
Ya aku terlalu pengecut untuk bisa mengajakmu bicara.
Aku bukan seorang bonek yang garang didepanmu.
Oh iya.. aku bisa bicara denganmu. jika ada orang lain yang sedang bersamamu.
Aku hanya bisa meneguk Kafein pekat yang sarat akan pahitnya dunia, tapi kamu membuatnya manis..
Iya, kamulah manis yang penuh kepahitan, dan akulah pahit yang penuh kemanisan.
Aku akui, senyummu saja bisa membuatku lumer. Meleleh kemana-mana.
Eh kamu, Kafein dan nikotinku. yang tak pernah absen di sore dan malam hariku.
Tanpa itu hidupku bukan hidup namanya.
Sebegitunya aku memaknaimu dalam hidupku.
Senyum berbehel itu yang selalu tertinggal di langit-lagit kamarku yang putih.
Pria berponi berubuh ceking dan telah berkepala dua itu yang mengisi euforia hariku, yang membuatku menemukan makna dalam menjalani hari.
Oh, oke sebelum ini aku pernah salah mencinta. Mencinta makhluk berbeda yang tak semanis kamu.
Dia, hanya bisa menghadirkan tangis dalam diamku. sedang kamu tidak.
Kamu memang menghadirkan tangis. tapi berbeda, ia punya rasa, ya, rasa yang hangat.
"Jangan heran, jika aku ada di dalam cangkir kopi yang kau sedu. Sebab Tuhan tahu, dimana tempat rindu layak untuk dijatuhkan." katamu suatu malam, disebuah kafe, di Kota Pahlawan.
Aku tau kamu mengutipnya dari Jejaring burung biru muda.
Aku tau kamu merayuku.
Hahaha, itu manis.
(aku tersenyum selalu ketika mengingatnya.)
Tuhan itu maha Asyik.
Ia mungkin mendaratkan seseorang dihariku, mungkin seseorang yang salah.
Tapi kemudian Ia menyadarkan aku.
Bahwa kamulah Alien yang layak menghuni pulau kecil berkarat yang berkali-kali tenggelam ini.
Sebut aku Sang Pecandu.
Karena aku Sakau jika tak ada senyummu.
Sebut aku Pecandu, yang tak bisa mangkir dari kehebohan sajak tentangmu, dan senyum berpagarmu.
Sebut aku Pecandu
Karena kamulah sebatang Nikotin dan secangkir Kafein ku.
:)
R
Subscribe to:
Posts (Atom)