Februari. Yah… Bulan penuh cinta memang.
Tapi entah kenapa, aku merasa akan lebih baik jika bulan ini cepat berlalu, atau dihilangkan saja? Banyak, bahkan terlalu banyak kenangan pahit yang disimpan bulan ini. Perlukah aku jelaskan?
Yah, sebut saja, bulan ini, aku mulai merasakan cinta, dan tepat di bulan ini cinta itu juga harus mati. Tahun lalu tepat di bulan yang sama, Cinta juga membunuhku. 3 tahun lalu, tepat di bulan yang sama, aku kehilangan cintaku. 10 tahun yang lalu. Tepat di bulan yang sama juga. Aku ditinggalkan sahabat terbaikku untuk selamanya. Masih mau bilang ini bulan penuh cinta? Pada kenyataannya ini bulan yang penuh dengan ‘SHIT’. Penuh dengan omong kosong. Penuh dengan lubang.
Hahaha….
Aku cukup menertawakannya saja. Menertawakan kamu yang begitu memuja bulan ini. Pernahkah kamu merasakan, aku, perasaanku ketika kamu mengatakannya? Penderitaanku karena harus menjalani sebuah dilemma hidup dimana ada kamu didalamnya? Kenangan bersamamu untuk yang terakhir kali, Janji-janji kecil yang cukup membuat aku tenang. Yang membuat aku tidak perlu khawatir malam datang dan melaluinya dengan tenang karena aku yakin ada kamu disana, di hari selanjutnya. Pernah kamu pikir bagaimana rasanya melewati malam dengan kekhawatiran. Layaknya seorang anak kecil yang takut akan kegelapan dan monster malam? Kamu tahu bagaimana rasanya berada dalam posisi itu?
Berkali-kali aku memilah, membungkus satu persatu ingatanku. Sudah kukuatkan ikatannya agar tak lepas lagi. Ingatanku akan sosokmu yang dengan santainya berkata, ‘aku sudah bahagia sekarang, hiduplah dengan tenang dan layak ya?’. Kamu pikir mudah? Kamu yang bodoh atau aku yang oon disini?
Aku pikirkan berkali-kali, apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan cara berpikirku? Atau bahkan ada yang salah dengan otakku, dengan kata lain, aku gila.
Ha? Ya, aku gila, gila karena kamu, sehingga aku harus di isolasi di ruang yang bernama kesendirian, dan bukan hanya jiwaku saja, tapi ragaku juga, ikut terisolasi. Hujan yang tidak mengijinkan aku untuk keluar dari rumahku sendiri. Dia tahu aku pribadi sendu, yang selalu menangis tiap aku merasa tertekan. Ya, menangis hanya satu-satunya jalanku membebaskan emosiku. Tapi emosiku hanya aku yang menyimpannya sendiri.
Kalian tahu, lampiasanku disini adalah salah satu bentuk nyata dari sebuah kecengenganku. Yang harusnya ini yang aku ceritakan pada kamu..
Lampiasan dari jiwaku, yang kini mati-matian membendung duka yang dengan kreatifnya kamu ciptakan dan tanamkan dihatiku. Oh, aku tahu, kenapa, karena kamu pikir, hatiku sudah rusak? Tubuhku sudah renta, hingga kamu bunuh perlahan begitu. Kenapa tidak saja langsung kamu bunuh, langsung hentikan jantungku, seperti penyakit yang aku derita? Mudah kan?
Tapi, itu semua adalah pilihanmu, aku tak lebih dari bonekamu. Benar kan?
February 27, 2013
Baris Terakhir
Ku tatap sebuah nama yang terukir dalam nisan itu. Ah, ya, kamu , seseorang yang memberiku kenikmatan. Walau hanya dalam mimpi. Kini terbaring tak berdaya dibawahnya.
Akhirnya ku sadari semuanya hanyalah mimpi. Mimpi yang Kamu berikan saat itu terasa sangat nyata. Kenangan terakhir yang kamu berikan sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia ini. Mimpi itu benar-benar nyata bagiku.
‘Aku berjanji, aku akan tetap bersamamu, mencintaimu, menyayangimu, sampai akhir hidup kita dan bahkan jika kamu sudah tidak ada disini lagi, aku akan tetap menunggumu hingga waktu itu datang’ kata-kata itu masih terngiang-ngiang di otakku. Aku masih mengingatnya. Aku meyakini jika itu adalah ucapan yang benar-benar ingin kamu sampaikan padaku.
***
Aku rela jika aku harus hidup dibawah bayang-bayang mimpiku, asalkan aku bisa selalu bersamamu.. Jika hanya lewat mimpi aku bisa memilikimu seutuhnya, mencintaimu, dan selalu ada disisimu aku rela untuk tidak pernah terbangun dari mimpiku..
Ternyata begitu sulit untuk mencintaimu di dunia nyata.. Kau telah pergi meninggalkan semuanya.. Senyummu begitu berarti banyak bagi kehidupanku..
Tetaplah datang dalam mimpiku, karena hanya itulah yang dapat membuatku sanggup menjalani hidup.. Biarkan aku tetap hidup dalam bayang-bayang mimpimu.. Biarkan aku tetap mencintaimu dalam mimpiku sampai kita dipertemukan kembali… Dan biarkan aku tetap memilikimu selamanya…
disisimu aku rela untuk tidak pernah terbangun dari mimpiku..
Sebenarnya, jika aku boleh jujur, pada diriku, atau bahkan pada kamu.. Keceriaan, Senyuman, seakan semua baik-baik saja, itu bukan aku.
Pribadi yang kuat, yang bagi mereka, aku bisa menangani semuanya, itu bukan aku. Aku ingin menangis, ingin melimpahkan segala kekesalan diri yang mungkin hendak meledak ini, tapi, aku bisa apa?
Pada akhirnya aku hanya bisa berlari pada sang malam dan melimpahkan segala kepedihanku. Ingin aku berontak. Aku tak mau hidup seperti ini. Diselimuti kediaman tentang segala hal yang ingin ku ungkapkan. Segala terasa berbeda. Aku tak seperti dulu mungkin.
Yang bisa seenaknya menyatakan apa yang aku rasakan.
Memelukmu dibelakang sekolah dan mengadu padamu, ada yang menggangguku?
Aku rindu saat itu.
Tapi waktu tak dapat lagi diputar. Jika saja ada. Aku ingin memilikinya. Sayang waktu bukan seperti jam pasir yang bisa dibolak-balik semaunya. Sehingga aku dapat memutar kembali masa itu, waktu itu, saat itu dimana disana ada aku, kamu, dan hujan..
Hah, jadi bicara tentang hujan lagi. Ya hujan memori itu.. 12 tahun yang lalu. Saat kita, masih penuh dengan senyum kekanakan, tawa ceria. Berlarian, seakan-akan waktu mengejar kita, Di waktu itu, kita, aku dan kamu, ya, dengan 5 sahabat kita, Kinkin, Cahya, Noval, Iqbal dan Citra. Itulah cerita . Kemarin terulang lagi, tapi bukan dengan kamu, bukan dengan 5 sahabat kita..
Tapi dengan bola biru, kuning, putih dan jarring-jaring net, tiang penyangganya, lapangan coklat berpasir, juga embun petang, dan juga sosok itu. Sosok yang membawa alunan lagu masa lalu, yang indah. Ya, Sosok itu, yang membuatku jatuh cinta pada Masa Orientasi Siswa. Dia, yang sejenak mengalihkan bayanganmu sejenak.
Konyol kan?
Kamu pikir, dia bisa mengalihkan aku sepenuhnya dari bayanganmu? Tidak?!
Kamu pikir aku bahagia? Tidak?!
Rasa bersalah menghantuiku. Aku selalu melihat sosokmu lagi di dirinya. Kamu yang aku lihat.. bukan kakak itu. Bukan dirinya sendiri?! Salah kan?
Yang penting kamu sudah bahagia. Itu cukup.
Akhirnya ku sadari semuanya hanyalah mimpi. Mimpi yang Kamu berikan saat itu terasa sangat nyata. Kenangan terakhir yang kamu berikan sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia ini. Mimpi itu benar-benar nyata bagiku.
‘Aku berjanji, aku akan tetap bersamamu, mencintaimu, menyayangimu, sampai akhir hidup kita dan bahkan jika kamu sudah tidak ada disini lagi, aku akan tetap menunggumu hingga waktu itu datang’ kata-kata itu masih terngiang-ngiang di otakku. Aku masih mengingatnya. Aku meyakini jika itu adalah ucapan yang benar-benar ingin kamu sampaikan padaku.
***
Aku rela jika aku harus hidup dibawah bayang-bayang mimpiku, asalkan aku bisa selalu bersamamu.. Jika hanya lewat mimpi aku bisa memilikimu seutuhnya, mencintaimu, dan selalu ada disisimu aku rela untuk tidak pernah terbangun dari mimpiku..
Ternyata begitu sulit untuk mencintaimu di dunia nyata.. Kau telah pergi meninggalkan semuanya.. Senyummu begitu berarti banyak bagi kehidupanku..
Tetaplah datang dalam mimpiku, karena hanya itulah yang dapat membuatku sanggup menjalani hidup.. Biarkan aku tetap hidup dalam bayang-bayang mimpimu.. Biarkan aku tetap mencintaimu dalam mimpiku sampai kita dipertemukan kembali… Dan biarkan aku tetap memilikimu selamanya…
disisimu aku rela untuk tidak pernah terbangun dari mimpiku..
Sebenarnya, jika aku boleh jujur, pada diriku, atau bahkan pada kamu.. Keceriaan, Senyuman, seakan semua baik-baik saja, itu bukan aku.
Pribadi yang kuat, yang bagi mereka, aku bisa menangani semuanya, itu bukan aku. Aku ingin menangis, ingin melimpahkan segala kekesalan diri yang mungkin hendak meledak ini, tapi, aku bisa apa?
Pada akhirnya aku hanya bisa berlari pada sang malam dan melimpahkan segala kepedihanku. Ingin aku berontak. Aku tak mau hidup seperti ini. Diselimuti kediaman tentang segala hal yang ingin ku ungkapkan. Segala terasa berbeda. Aku tak seperti dulu mungkin.
Yang bisa seenaknya menyatakan apa yang aku rasakan.
Memelukmu dibelakang sekolah dan mengadu padamu, ada yang menggangguku?
Aku rindu saat itu.
Tapi waktu tak dapat lagi diputar. Jika saja ada. Aku ingin memilikinya. Sayang waktu bukan seperti jam pasir yang bisa dibolak-balik semaunya. Sehingga aku dapat memutar kembali masa itu, waktu itu, saat itu dimana disana ada aku, kamu, dan hujan..
Hah, jadi bicara tentang hujan lagi. Ya hujan memori itu.. 12 tahun yang lalu. Saat kita, masih penuh dengan senyum kekanakan, tawa ceria. Berlarian, seakan-akan waktu mengejar kita, Di waktu itu, kita, aku dan kamu, ya, dengan 5 sahabat kita, Kinkin, Cahya, Noval, Iqbal dan Citra. Itulah cerita . Kemarin terulang lagi, tapi bukan dengan kamu, bukan dengan 5 sahabat kita..
Tapi dengan bola biru, kuning, putih dan jarring-jaring net, tiang penyangganya, lapangan coklat berpasir, juga embun petang, dan juga sosok itu. Sosok yang membawa alunan lagu masa lalu, yang indah. Ya, Sosok itu, yang membuatku jatuh cinta pada Masa Orientasi Siswa. Dia, yang sejenak mengalihkan bayanganmu sejenak.
Konyol kan?
Kamu pikir, dia bisa mengalihkan aku sepenuhnya dari bayanganmu? Tidak?!
Kamu pikir aku bahagia? Tidak?!
Rasa bersalah menghantuiku. Aku selalu melihat sosokmu lagi di dirinya. Kamu yang aku lihat.. bukan kakak itu. Bukan dirinya sendiri?! Salah kan?
Yang penting kamu sudah bahagia. Itu cukup.
February 14, 2013
Sajak Untuk Dia
Dia, sesuatu yang aku sebut hidup
Dia, sesuatu yang aku sebut kebahagiaan
Dia, sesuatu yang aku sebut nyawa,
Dia, sesuatu yang aku panggil malaikat.
Dia, sesuatu yang aku sebut ilusi
Dia, sesuatu yang aku sebut kebutuhan jiwa,
Dia, sesuatu yang aku sebut mimpi
Dia, sesuatu yang aku sebut cita-cita
Dia, sesuatu yang aku sebut masa depan
Dia, sesuatu yang aku sebut rindu
Dia, sesuatu yang aku sebut rasa
Dia, sesuatu yang aku sebut memori
Dia, sesuatu yang aku sebut kenangan
Dia, sesuatu yang aku sebut air mata
Dia, sesuatu yang aku yakini cinta
Dia, yang aku sebut inspirasi
Dia, yang aku sebut harmoni
Dia, yang aku sebut melodi
Dia, yang aku sebut diksi
Dia, sesuatu yang aku dendangkan
Dia, sesuatu yang aku tulis dalam bait puisiku
Dia, sesuatu yang aku ucap dalam larik jiwaku
Dia, sesuatu yang aku hirup dibarisan oksigenku
Dia, sesuatu yang aku suka dalam deru hujan
Dia, yang aku rasakan cuacaku
Dia, yang aku sentuh teksturnya
Dia, sesuatu yang aku sebut kebahagiaan
Dia, sesuatu yang aku sebut nyawa,
Dia, sesuatu yang aku panggil malaikat.
Dia, sesuatu yang aku sebut ilusi
Dia, sesuatu yang aku sebut kebutuhan jiwa,
Dia, sesuatu yang aku sebut mimpi
Dia, sesuatu yang aku sebut cita-cita
Dia, sesuatu yang aku sebut masa depan
Dia, sesuatu yang aku sebut rindu
Dia, sesuatu yang aku sebut rasa
Dia, sesuatu yang aku sebut memori
Dia, sesuatu yang aku sebut kenangan
Dia, sesuatu yang aku sebut air mata
Dia, sesuatu yang aku yakini cinta
Dia, yang aku sebut inspirasi
Dia, yang aku sebut harmoni
Dia, yang aku sebut melodi
Dia, yang aku sebut diksi
Dia, sesuatu yang aku dendangkan
Dia, sesuatu yang aku tulis dalam bait puisiku
Dia, sesuatu yang aku ucap dalam larik jiwaku
Dia, sesuatu yang aku hirup dibarisan oksigenku
Dia, sesuatu yang aku suka dalam deru hujan
Dia, yang aku rasakan cuacaku
Dia, yang aku sentuh teksturnya
Dia, yang aku sebut kegelapan
Dia, yang aku sebut malam
Dia, yang aku sebut rona
Dia, yang aku sebut mega-mega
Dia, yang aku sebut hangat
Dia, yang aku sebut hangat
Dia, yang aku sebut keindahan
Dia, yang aku sebut cahaya
Dia yang aku namakan Matahari,
Dia...
Ya..
Dia..
H.. :D
Dia....
Ya...
Dia, yang aku tahu Kamu..
) * :) *
Yang di dalam namamu ada ...
Emoticon Senyum
Subscribe to:
Posts (Atom)