January 13, 2013

Kenangan Tentang Kamu, Sang Hujan

 Dalam sebuah cerita, pasti akan ada beberapa bagian yang paling disukai diantara bagian-bagian lainnya. aku juga memiliki beberapa bagian tersebut. Salah satunya saat hujan seperti ini. aku dan kamu, kita. Saat dalam perjalanan dialog di beranda rumahmu dan tiba-tiba hujan datang mengahampiri.

Seperti sebuah kotak musik yang tidak akan berhenti memainkan musik ketika dibuka, begitupun kita yang akan terus menganga saat melihat tetesan-tetesan air perlahan-lahan turun ke bumi. Membasahi tanah dan menimbulkan aroma khas yang selalu kita nanti.

Malam itu, bukan senja, ya senja itu  kita duduk berdua,, dibalik Jendela kaca, yang seakan menjadi etalase kita, 
Aku diam memucat tidak berani membuka mulut, meski dingin merasuk tajam melalui pori-pori jaketku, dan mungkin bisa membuat aku beku seketika. Tetapi, ketika melihatmu mematung mengagumi hujan, itu jadi sesuatu yang aneh, seperti roh-roh aneh merasukiku, aku ikut hanyut dalam diammu, mengikuti setiap sudut tatapanmu, bagiku hujan saat itu ada disampingku, bukan di depanku, di luar etalase kita..


Kamu dengan senyuman itu, ya, senyuman itu, senyum yang seakan sanggup melelehkan gundukan es di kepalaku, senyum yang cantik. Senyum yang membawa damai dalam relung hatiku,, 
Kamu menatap Mataku, dalam diam. Aku cuma bisa ternganga. Bodohnya aku, Ya aku masih si kecil lugu, tapi Kamu bilang aku hebat! Bisa menghancurkan kamu dalam untaian waktu yang singkat.. 
Seperti tasbih yang bisa dihitung dengan jari.. 

Jika saja yang ada di hatiku bisa aku ungkapkan kepada kamu,, yang ada di bibirku bisa sama dengan yang ada di hatiku.. Pasti, Kamu tidak akan menderita seperti ini. Menganggap aku yang jahat, dan kamu yang kusakiti. 
Jika saja, 
Huh, kata "Jika saja" sudah seperti harapan palsu bagi ku,, 
Jika saja adalah satu bentuk penyesalanku.

Aku selalu saja membayangkan,, bisa duduk bercanda dengan Kamu , 
Kalau saja bukan karena keegoisanku,, 

hah?! lagi-lagi  aku cuma bisa menghembuskan penyesalan sial itu?! 

Bagiku kamulah Hujanku, 
Kau tau
Saat awan kelam tak lagi ku anggap penganggu senja
Pembawa hujan itu  tak terlalu buruk
Tuk diabadikan dalam memori
Setiap hujan datang ku sempatkan duduk bersamanya.. meski kali ini cuma di balik etalase. 
Dan dibalik etalase itu Satu boneka hilang ,, dan menjelma jadi hujan.. 

No comments:

Post a Comment